3 Point Utama Analisis Politik Di Indonesia

3 Point Utama Analisis Politik Di Indonesia

Jika berbicara mengenai analisis politik, itu berbarti kita berbicara menegenai How ( Bagaimana), Who gets what ( Apa yang didapatkan) dan When ( Kapan). Ini menjadi salah satu ungkapan yang dikemukan oleh Harold Laswell yang merupakan seorang ilmuwan politik terkenal di Amerika Serikat di dalam bukunya. Bebicara mengenai politik sama artinya dengan berbicara mengenai siapa yang mendapatkan apa, kapan serta bagaimana caranya.

Analisis Politik yang Terjadi Di Indonesia

3 Point Utama Analisis Politik Di Indonesia

Untuk dapat mendapatkan semua hal yang sudah dijelaskan tersebut, tentu saja setiap partai politik harus terlebih dahulu memahami mengenai lanskap politik saat ini di lingkungan yang berbeda tentunya. Sama juga dengan politik di Indonesia. Pemahaman mengenai seluk beluk politik Indonesia yang terjadi sekarang ini, menjadi salah landasan dasar bagi para partai politik untuk dapat memilih jalan yang akan ditempuh dalam rangka untuk merebut hati masyarakat Indonesia. Analisis politik ini termasuk  krisis Covid 19. Berikut ini adalah laskap politik Indonesia terkini :

  • Peta politik Parlemen di Indonesia

Pada dasarnya, peta politik parlemen di Indonesia terkinu adalah adanya perubahan peta politik setelah pemilihan anggota legislatif pada tahun 2019. Pada saat ini terdapat 9 partai politik yang ada di parlemen. Enam parpol ini adalah pendukung dari PDIP. Gerindra, Nasdem, Golkar, PKB, dan PPP.  Sedangkan parpol yang ada diluar pemerintah adalah PAN, Demokrat dan PKS.

Setiap partaio politik sudah mempunyai jatah kursi masing-masing. Partai politik dalam pemerintah mendapat kursi sebanyak 427 atau 74%. Sementara itu, untuk partai politik di luar pemerintah hanya mendapatkan kursi sebesar 148 ayau 26% saja.

Partai politik luar pemerintahan mempunyai keterbatasan pada ruang gerak akrena program dan juga anggaran dari pemerintah akan lebih fokus dicurahkan pada partai politik pendukung. Hal ini karena mereka memiliki kemmpuan dalam memperjuangkan semuya aspirasi rakyat.

  • Polarisasi

Polarisasi ini berkaitan dengan mengentalnya kebudayaan politik polarisasi. Ini merupakan sebuah pola pikir yang dianggap sangat ekstrim karena mendekati sebuah konsep indentifikasi diri.

Seperti yang dilihat pada saat ini, ada beberapa elemen masyarakat uang kecenderung mempunyai konsep pemikiran memetakan ornag yang ada di sekitarnya berdasarkan pilihan politik yang mereka anut. Di dalam masyarakat tersebut dibagi menjadi dua golongan yaitu in group dan out group. 

Dalam hal ini ada kecenderung untuk saling menguatkan prasangka kepada kelompok yang mempunyai cara pandang yang berbeda. Terkadang menganggap pihak kutub sebagai sesama pembela bangsa dan negara atau sebaliknya menggapnya sebagai musuh yang berusaha menghancurkan negara. Misalnya saja pada masa pemilihan presiden  pada tahun 2019 yang nyatanya terjadi strategi polarisasi yang sudah berhasil memeceah belah negara Indonesia menjadi dua kubu yang saling bertentangan.

  • Penurunan kekebebasan sipil

Pada dasarnya, semakin melemahnya peran masyarakat sipil maka secara otomatis  semakin menurunmya kemampuan salam mengapresiasi akan hak-hak politik dan kebebasan sipil Indonesia. Berdasrkan laporan dari Freedom House yang merupakan lembaga pemantau dan pendukung demokrasi di New York yang melakukan analisis politik Indonesia dimana Indonesia akan mengalami penurunan dan kemunduruan pada indeks hak politik dan juga kebebadan masyarakat sipil dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Hal tentu saja menjadi dalah satu masalah yang harus segera diselesaikan oleh negara Indonesia.  Sehingag Indonesia akan menjadi negara yang maju dilihat dari sisi mana saja.